Segelas Air Persahabatan
Karya: Suri Isnaini
Entah sejak kapan aku mulai merasakan perasaan ini. Kau selalu membuatku merasa nyaman saat ada didekatmu. Tapi aku terlalu takut untuk memberitahukannya padamu. Perkenalkan, namaku Elena. Dan lelaki yang selalu bisa membuatku nyaman saat didekatnya adalah Damon. Dia adalah sahabatku. Kupikir perasaanku ini hanya sebatas perasaan sayang terhadap sahabat. Namun aku salah. Setiap kali aku melihatnya dan Dia melemparkan seulas senyum kepadaku, aku merasakan jantungku berdebar hebat seakan meronta-ronta ingin keluar. Mungkin aku berlebihan. Tapi asal tahu saja, aku memang benar-benar merasakannya.
Berawal dari tugas kelompok yang kita kerjakan bersama, aku mulai mengenalmu. Ternyata kau memang anak yang menyenangkan. Sudah enam bulan kita sekelas, namun aku baru benar-benar tahu kalau kau seperti yang dibicarakan banyak orang. Kau pandai, tampan, baik, mudah bergaul, ramah, dan satu hal yang paling membuatku selalu tersenyum jika mengingatmu, yaitu kekonyolanmu. Oh ya, aku juga mempunyai dua sahabat lain. Jane dan Anna. Jane berperawakan tinggi dan kurus, wajahnya cantik. Sama seperti Jane, Anna juga bertubuh tinggi dan kurus, dan berwajah manis. Kami berempat -Aku, Damon, Jane dan Anna- mulai bersahabat sejak kami mendapat sebuah tugas kelompok. Awalnya kami memang agak canggung, namun karena kekonyolan Damonlah suasana menjadi cair. Sejak saat itu kami menjadi akrab. Kami sering berkumpul di rumah Anna atau Damon untuk mengerjakan PR atau hanya sekedar ingin bermain. Dari kami bertiga -Aku, Jane dan Anna- akulah yang paling dekat dengan Damon. Damon begitu baik padaku, begitu pula sebaliknya. Namun, karena masalah itu semuanya pun berubah. ***
Pagi itu adalah pagi yang suram untukku. Cuaca mendung semakin memperparah suasana hatiku yang saat itu sedang kacau. Saat baru saja menaruh tas dan bersiap untuk duduk, Jane menghampiriku. Dengan wajah yang ceria dia mengabarkan suatu hal yang seakan menikam jantungku. Dia berkata bahwa semalam Damon menyatakan perasaan kepadanya. Refleks, aku langsung berdiri dan pergi meninggalkan Jane. Tak peduli apa yang akan dipikirkannya. Aku bingung. Apakah ini hanya lelucon atau memang sungguhan. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk bertanya langsung pada Damon. Saat kutanya, Damon hanya diam saja. Aku sedih. Berarti ini memang sungguhan. Kukira selama ini Damon menyukaiku. Tapi ternyata aku salah. Dia hanya menganggapku sebagai sahabat dan lebih menyukai Jane. Aku yang saat itu sedang sangat marah melampiaskan amarahku pada semua orang. Aku mengabaikan tiap orang yang berbicara kepadaku. Tidak tahan dengan sikap bisuku, Damon dan Jane menjadi marah padaku. Saat itu aku baru sadar. Mengapa aku bodoh sekali? Mengapa aku membiarkan kemarahan dan keegoisanku memperalat pikiranku? Ya Tuhan, mengapa aku begitu bodoh dan egois dalam menghadapi hidup ini? Hanya Anna yang saat ini bisa menghiburku. Aku menceritakan semuanya pada Anna. Anna hanya bisa terdiam dan memelukku. ***
Siang ini aku mendapat pesan singkat dari Anna. Dia menyuruhku untuk datang ke rumahnya, karena itulah aku berdiri disini. Di depan rumah yang selalu aku rindukan. Rumah yang menyimpan banyak kenangan antara Aku, Damon, Jane dan Anna. Hatiku sakit bila mengingatnya. Sudah dua minggu Aku, Damon dan Jane mengalami perang dingin. Anna selalu membujuk kami untuk berdamai. Namun kami terlalu gengsi. Aku memencet bel rumah tersebut. Tak lama kemudian Anna keluar dan membukakan pintu untukku. Dia menyuruhku masuk ke ruang tamu. Betapa kagetnya aku melihat Damon dan Jane sudah duduk di masing-masing ujung sofa panjang di ruang tamu itu. Aku bingung melihat perilaku mereka. Kupikir mereka sudah berpacaran, tetapi mengapa duduknya jauh-jauhan seperti itu? Yasudahlah, bukan urusanku juga. Anna mempersilahkan aku duduk diantara Damon dan Jane. Namun aku tidak mau. Aku duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka. Anna pamit untuk mengambil minuman di dapur. Suasana di ruang tamu sangat tegang. Kami hanya diam membisu. Sampai akhirnya Anna datang membawa segelas air putih. Kami bingung. Mengapa Anna hanya membawa segelas? Apa dia tidak bisa berhitung? Kami kan bertiga. Aku, Damon dan Jane sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Anna memecah keheningan. Dia berkata, “Apa kalian tidak haus?”. Jane menjawab, “Ya kami haus. Tapi mengapa kau hanya membawakan segelas air putih untuk kami? Kami kan bertiga.” Anna hanya diam. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia hanya memperhatikan kami. Karena sudah tidak kuat menahan rasa haus dan cuaca memang sedang sangat panas, kami memutuskan untuk meminumnya. Dimulai dari Damon, lalu Jane dan terakhir aku. Aku kaget saat Anna tiba-tiba berkata “Itu kalian masih bisa berbagi, tapi mengapa kalian tidak bisa saling memaafkan?”. Hampir saja aku mengeluarkan air yang baru setengah tertelan. “Jadi Anna ingin mencoba mendamaikan kami lagi” pikirku. Kami bertiga hanya terdiam. Setelah berhasil mengumpulkan segala keberanian aku berkata, “Maafkan aku. Ini semua salahku. Aku yang menyebabkan persahabatan kita hancur. Maafkan aku.” Aku merasakan air mataku mulai mengalir. Aku sudah tidak peduli tentang perasaanku pada Damon. Toh, kata orang-orang sahabat lebih penting dari pacar. Walaupun sebenarnya aku masih menyimpan perasaan pada Damon, tapi aku lebih mementingkan persahabatan ini. “Persahabatan kita belum hancur. Maafkan aku. Tidak seharusnya aku mempermainkan perasaan perempuan.” Damon angkat bicara. “Maafkan aku juga Elena. Asal kau tahu saja, aku tidak pacaran dengan Damon.” aku Jane. “Tidak pacaran? Yang benar saja. Kau pasti berbohong.” sergahku. “Untuk apa aku berbohong Elena? Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada pujaan hatimu.” Kata Jane sambil melirik ke Damon. Yang dilirik hanya memberikan seulas senyum. Aku merasakan pipiku memanas. “Lalu, kenapa saat Damon menyatakan perasaannya padamu kau terlihat begitu gembira?” tukasku. “Ya ampun Elena. Wanita mana yang tidak gembira saat ada seorang lelaki menyatakan perasaan kepadanya?” Aku merasakan pipiku semakin memanas. Jane dan Damon hanya tertawa melihat tingkahku. “Jadi, kita baikan nih?” kata Damon sambil menjulurkan jari kelingkingnya. “Ya!” jawabku dan Jane bersamaan sambil mengaitkan jari kelingking kami ke jari kelingking Damon. Kami bertiga tersenyum penuh arti. Saat itu kami baru menyadari Anna sudah tidak bersama kami. Tiba-tiba Anna datang dari arah dapur dan berkata dengan ceria “Ada yang mau jus mangga?” Kami hanya berpandangan, lalu tertawa. Indahnya persahabatan.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar